Kenapa manusia tidak berfikir atau mempertanyakan kejadian diri ?

Assalamu’alaikum

Mari kita merenungkan/tafakur dengan segala kasih sayang Allah Sebagai Robb maha segalanya, sholawat serta salam smoga tercurah kepada Pemimpin baginda rasulullah dan sekaligus Pemimpin Revolusi islam sampai akhir Zaman dan semoga sampai kepada kita dan mudah2an ada satys pengakuan sebagai ummatnya.

mari kita sebagai manusia yang telah Allah berikan potensi yang sama dan tiada beda sedikitpun pada dasarnya oleh Allah dengan segala kelupaan yang Allah berikan

inilah bukti kongkrit manusia adalah mahluk yang bepotensi sama pada awalnya

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur" Qs; An-nahl :78

inilah dasar manusia dari zaman manusia pertama yang di lahirkan sampai sekarang kecuali Nabi adam dan siti hawa yang langsung penciptaan-nya Oleh Allah tanpa mekanisme proses biologis.

lalu buat apa potensi Allah berikan yaitu untuk bersyukur artinya memfungsikan potensi sesuai dengan perintah Allah saja untuk memahami dan mengaktualisasikan wahyu allah (Al-qur’an) karena sebagai pedoman hidup manusia= hudal linas.
dan ini bukan konteks kepada mahluk selain manusia dan tidak sebatas organ tubuh atau indra karena binatangpun punya mata,punya telinga dan ada hatinya.

karena segala sesuatu yang allah ciptakan ada maksud dan tujuan yang benar, dan akan berakhir sesuai dengan pernyataan Allah Qs: Ar-rum:8

"Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya."

ini adalah statment allah sebuah pertanyaan dari Allah kepada mahluk yang namnya manusia.

kenapa ada pertanyaan loginya ada yang di pertanyakan.

kenapa manusia tidak berfikir atau mempertanyakan kejadian diri kita,dan segala mahluk di bumi dan langit serta isinya ternyata ada tujuan yang benar sekalipun allah menciptakan virus h1n1. ini adalah kehendak allah bahkan tidak sedikitpun manusia yang bisa menjamah rencana allah baik dengan teknologi tercanggih pun, dan ada batasanya atau akan berakhir. tapi mayoritas manusia secara global benar-benar menolak,tidak yakin bahkan tidak mengimani akan berhadapan dengan Allah sebagai Robb (maha pengatur ,pemberi rizki, pemelihara dst)

sudah seharusnya kita diberi potensi oleh Allah di gunakan di jalan Allah dan jangan sampai kita termasuk kepada yang tidak bersyukur ini akan sangat berakibat fatal bagi kita sebagai manusia mahluk allah yang di beri amantpotensi tapi di salah gunakan bukan pada komposisinya.

sehingga tidak mencapai tujuan penciptaan manusia itu sendiri yaitu  Qs; Adzariat:56
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu (mengabdikan diri kepada pemilik,pencipta manusia dan jin)"

Jika potensi di gunakan selain untuk benilai ibadah lantas apakah lawan ibadah sudah jelas maksiat sekecil apapun itu. dan jika tidak beribadah maka status kemanusiaanya di pertanyakan tentunya di hadapan Allah kelak.

jangan sampai mengundang penguncian potensi oleh Allah dan menghasilkan ending yang naudzu billah himin dzalik

coba kita telaah QS: Al-baqoroh:6-7

"Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman" (6)
"Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat"(7)

jika Allah telah mengunci hati walahu a’lam bagaimana caranya entah itu bergelimangan dengan kemaksiatan,atupun penyakit akibat dari salah optimalisasi potensi tadi sehingga mengundang siksa dari allah.

kenapa mengundang ya karena tidak sesuai dengan yang di pesankan Allah.

inilah sebenarnya sebuah problematika manusia yang tidak sadar dengan potensi yang di berikan Allah kepada manusia.

"Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)" Al-isra:72

jazzakallah

posisikan diri kita mengotimalisasikan potensi titipan Allah, dan tidak mengundang penyalahgunaan potensi sehingga tidak jadi nilai ibadah dan benilai maksiat sehingga mengundang siksa dan menyesatkan dari jalan yang benar menurut Allah dan rasul-Nya.

*** Yang benar datangnya dari allah yang salah dari saya sebagai mahluk yang dhoif ****

wassalam

H2C Islam Yang Tak Sempurna

Islam sebagai Din(aturan,wilayah,keuasaan,hukum,system)/agama menurut bhs sangsekerta yang sudah umum dipahami oleh kita, dimana adanya aktifitas yang mengagungkan (taqdis) terhadap sesuatu yang lebih besar diluar dirinya. Tetapi apakah betul Islam hanya sebuah din semata semisal:ibadah mahdah (shalat, zakat, puasa, haji, dzikir dan shadaqah) atau masalah akhlaq (hati). Sehingga muncul ungkapan: “Jangan libatkan agama dalam urusan politik!”, atau dalam kasus Inul: “Agama tidak ada hubungannya dengan seni, ini kebebasan berekspresi!”, atau slogan: “Islam yes, politik no!”, sehingga seolah-olah Islam silahkan dijalankan di mesjid-mesjid dan di luar mesjid jangan melibatkan Islam.

Islam tidak hanya sebatas agama tetapi juga merupakan sebuah sistem kehidupan (ideologi) yang sangat sempurna, Allah swt menciptakanmanusia tentu tidak akan lupa untuk menciptakan juga aturan yang dapat menyelamatkan manusia dari kesengsaraan didunia dan akhirat. Maha Suci Allah dari segala keterlupaan itu. Sebagai acuan untuk mengatur sistem kehidupan adalah Al-Quran dan sunnah.

Aku telah meninggalkan ditengah-tengah kalian dua perkara, kalian tidak akan pernah tersesat selamanya selama kalian berpegang teguh pada keduanya,yakni Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya (HR Imam Malik).

Untuk mengatur kehidupan ini, dapat diuraikan dalam 3 bagian:
1. Hubungan manusia dengan Tuhannya
a. Aqidah: bagaimana manusia mengenal Tuhannya (Tauhid), Muhammad saw utusan-Nya, Al-Quran sebagai kalamullah, dll.
b. Ibadah: shalat, puasa, zakat, haji, dzikir, shadaqah, dll.

2. Hubungan manusia dengan dirinya
a. Akhlaq: sikap moral, sabar, kasih sayang, dll.
b. Math’umat (makanan): keharaman babi, khamr, dll.
c. Malbusat (pakaian): menutup aurat

3. Hubungan manusia dengan manusia lainnya
a. Mu’amalat: perdagangan, industri, kesehatan, sosial, pendidikan, dll.
b. ‘Uqubat (sanksi): sanksi terhadap pelanggaran syari’at Islam seperti:had, qishash/jinayat, ta’zir dan mukhallafat

Dengan demikian Islam disamping sebuah agama juga sebuah sistem kehidupan, hanya saja sangat disayangkan sistem kehidupan yang sangat sempurna ini,telah terbukti keberhasilan penerapannya selama lebih 13 abad dan pasti benar karena berasal dari Allah swt, tidak bisa diterapkan ditengah-tengah kehidupan kita dan masih sebatas konsep (fikrah) belaka. Penerapannya masihsebatas ibadah, akhlaq, nikah atau waris, tetapi bagaimana dengan syari’at Islam yang lain?.

Jika kita fokus kepada masalah tauhid saja, maka kita baru menjalankan Islam disisi hubungan manusia dengan Tuhannya (aqidah). Jika kita fokus kepada dzikir saja, maka kita baru menjalankan Islam disisi hubunganmanusia dengan Tuhannya (ibadah). Jika kita fokus kepada masalah Ahlaq (hati) saja, maka kita baru menjalankan hubungan manusia dengan manusialain (akhlaq).

Tetapi bagaimana dengan syari’at Islam lainnya?; math’umat (makanan), malbusat (pakaian), mu’amalat (perdagangan, industri, kesehatan, sosial,pendidikan, dll), ‘uqubat (sistem sanksi atas pelaku kriminal), sudahkah kita memahami dan menjalankannya sesuai Islam?. Makanan sudah halalkah?,pakaian sudah menutup auratkah?, masih korupsikah?, masih menikmati bungaribakah?, untuk menghukum pelaku kriminal masih menggunakan hukum Belanda-kah?, dll.

Padahal Allah swt memerintahkan kita menjalankan Islam secara kaffah
(total), tidak mengambil sebagian dan mengabaikan sebagian besarlainnya.

Wahai orang-orang yang beriman masuklah kamu kedalam Islam secara kaffah,dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itumusuh yang nyata bagimu (Al-Baqarah 208).

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-Nya dan hendakmembedakan antara Allah dan rasul-Nya itu, dan berkata: “Kami mempercayai sebagian dan kafir kepada yang lain”. Dan mereka bermaksud mencari jalan tengah (antara iman dan kafir). Mereka (yang bersikap demikian) itulah yang kafir tulen. kami menyediakan bagi orang-orang yang kafir azab yang berat(An-Nisa’ 150-151)

Padahal, tidak ada yang terbebas dari syari’at Islam kecuali 4 jenis manusia saja: anak kecil hingga baligh, orang gila hingga waras, orang tidur hingga bangun dan orang mati. Kita termasuk yang mana?, kalau bukan salah satu dari 4 jenis manusia tersebut maka kita wajib menjalankan syari’at Islam seutuhnya/kaffah.

Jika tidak diterapkan hukum-hukum Allah ini secara sempurna, maka kita hanya bisa H2C (harap-harap cemas) agar Allah swt tidak menimpakan adzabnya kepada kita, atau jangan-jangan kita telah mengalaminya saat ini.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa
mereka disebabkan perbuatannya
(Al-A’raf 96).

Telah terjadi kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah akan merasakan kepada mereka sebahagian (akibat tindakan mereka) agar mereka kembali (kejalan yang benar) (Ar-Rum 41).

Telah terjadi kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah akan merasakan kepada mereka sebahagian (akibat tindakan mereka) agar mereka kembali (kejalan yang benar) (Ar-Rum 41).
 

Jajakallah wallahu�alam

Syaikh Said Qutub : Telunjuk yang Bersyahadat

Ulama, da’i, serta para penyeru Islam yang mempersembahkan nyawanya di Jalan Allah, atas dasar ikhlash kepadaNya, sentiasa ditempatkan Allah sangat tinggi dan mulia di hati segenap manusia.

Di antara da’i dan penyeru Islam itu adalah Syuhada (insya Allah) Sayyid Qutb. Bahkan peristiwa eksekusi matinya yang dilakukan dengan cara digantung, memberikan kesan mendalam dan menggetarkan bagi siapa saja yang mengenal Beliau atau menyaksikan sikapnya yang teguh. Di antara mereka yang begitu tergetar dengan sosok mulia ini adalah dua orang polisi yang menyaksikan eksekusi matinya (di tahun 1966).

Salah seorang polisi itu mengetengahkan kisahnya kepada kita:

Ada banyak peristiwa yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya, lalu peristiwa itu menghantam kami dan merubah total kehidupan kami.

Di penjara militer pada saat itu, setiap malam kami menerima orang atau sekelompok orang, laki-laki atau perempuan, tua maupun muda. Setiap orang-orang itu tiba, atasan kami menyampaikan bahwa orang-orang itu adalah para pengkhianat negara yang telah bekerja sama dengan agen Zionis Yahudi. Karena itu, dengan cara apapun kami harus bias mengorek rahasia dari mereka. Kami harus dapat membuat mereka membuka mulut dengan cara apapun, meski itu harus dengan menimpakan siksaan keji pada mereka tanpa pandang bulu.

Jika tubuh mereka penuh dengan berbagai luka akibat pukulan dan cambukan, itu sesuatu pemandangan harian yang biasa. Kami melaksanakan tugas itu dengan satu keyakinan kuat bahwa kami tengah melaksanakan tugas mulia: menyelamatkan negara dan melindungi masyarakat dari para “pengkhianat keji” yang telah bekerja sama dengan Yahudi hina.

Begitulah, hingga kami menyaksikan berbagai peristiwa yang tidak dapat kami mengerti. Kami mempersaksikan para ‘pengkhianat’ ini sentiasa menjaga shalat mereka, bahkan sentiasa berusaha menjaga dengan teguh qiyamullail setiap malam, dalam keadaan apapun. Ketika ayunan pukulan dan cabikan cambuk memecahkan daging mereka, mereka tidak berhenti untuk mengingat Allah. Lisan mereka sentiasa berdzikir walau tengah menghadapi siksaan yang berat.

Beberapa di antara mereka berpulang menghadap Allah sementar ayunan cambuk tengah mendera tubuh mereka, atau ketika sekawanan anjing lapar merobek daging punggung mereka. Tetapi dalam kondisi mencekam itu, mereka menghadapi maut dengan senyum di bibir, dan lisan yang selalu basah mengingat nama Allah.

Perlahan, kami mulai ragu, apakah benar orang-orang ini adalah sekawanan ‘penjahat keji’ dan ‘pengkhianat’? Bagaimana mungkin orang-orang yang teguh dalam menjalankan perintah agamanya adalah orang yang berkolaborasi dengan musuh Allah?

Maka kami, aku dan temanku yang sama-sama bertugas di kepolisian ini, secara rahasia menyepakati, untuk sedapat mungkin berusaha tidak menyakiti orang-orang ini, serta memberikan mereka bantuan apa saja yang dapat kami lakukan. Dengan ijin Allah, tugas saya di penjara militer tersebut tidak berlangsung lama. Penugasan kami yang terakhir di penjara itu adalah menjaga sebuah sel di mana di dalamnya dipenjara seseorang. Kami diberi tahu bahwa orang ini adalah yang paling berbahaya dari kumpulan ‘pengkhianat’ itu. Orang ini adalah pemimpin dan perencana seluruh makar jahat mereka. Namanya Sayyid Qutb.

Orang ini agaknya telah mengalami siksaan sangat berat hingga ia tidak mampu lagi untuk berdiri. Mereka harus menyeretnya ke Pengadilan Militer ketika ia akan disidangkan. Suatu malam, keputusan telah sampai untuknya, ia harus dieksekusi mati dengan cara digantung.

Malam itu seorang sheikh dibawa menemuinya, untuk mentalqin dan mengingatkannya kepada Allah, sebelum dieksekusi.

(Sheikh itu berkata, “Wahai Sayyid, ucapkanlah Laa ilaha illa Allah…”. Sayyid Qutb hanya tersenyum lalu berkata, “Sampai juga engkau wahai Sheikh, menyempurnakan seluruh sandiwara ini? Ketahuilah, kami mati dan mengorbankan diri demi membela dan meninggikan kalimat Laa ilaha illa Allah, sementara engkau mencari makan dengan Laa ilaha illa Allah”. Pent)

Dini hari esoknya, kami, aku dan temanku, menuntun dan tangannya dan membawanya ke sebuah mobil tertutup, di mana di dalamnya telah ada beberapa tahanan lainnya yang juga akan dieksekusi. Beberapa saat kemudian, mobil penjara itu berangkat ke tempat eksekusi, dikawal oleh beberapa mobil militer yang membawa kawanan tentara bersenjata lengkap.

Begitu tiba di tempat eksekusi, tiap tentara menempati posisinya dengan senjata siap. Para perwira militer telah menyiapkan segala hal termasuk memasang instalasi tiang gantung untuk setiap tahanan. Seorang tentara eksekutor mengalungkan tali gantung ke leher Beliau dan para tahanan lain. Setelah semua siap, seluruh petugas bersiap menunggu perintah eksekusi.

Di tengah suasana ‘maut’ yang begitu mencekam dan menggoncangkan jiwa itu, aku menyaksikan peristiwa yang mengharukan dan mengagumkan. Ketika tali gantung telah mengikat leher mereka, masing-masing saling bertausiyah kepada saudaranya, untuk tetap tsabat dan shabr, serta menyampaikan kabar gembira, saling berjanji untuk bertemu di Surga, bersama dengan Rasulullah tercinta dan para Shahabat. Tausiyah ini kemudian diakhiri dengan pekikan, “ALLAHU AKBAR WA LILLAHIL HAMD!” Aku tergetar mendengarnya.

Di saat yang genting itu, kami mendengar bunyi mobil datang. Gerbang ruangan dibuka dan seorang pejabat militer tingkat tinggi datang dengan tergesa-gesa sembari memberi komando agar pelaksanaan eksekusi ditunda.

Perwira tinggi itu mendekati Sayyid Qutb, lalu memerintahkan agar tali gantungan dilepaskan dan tutup mata dibuka. Perwira itu kemudian menyampaikan kata-kata dengan bibir bergetar, “Saudaraku Sayyid, aku datang bersegera menghadap Anda, dengan membawa kabar gembira dan pengampunan dari Presiden kita yang sangat pengasih. Anda hanya perlu menulis satu kalimat saja sehingga Anda dan seluruh teman-teman Anda akan diampuni”.

Perwira itu tidak membuang-buang waktu, ia segera mengeluarkan sebuah notes kecil dari saku bajunya dan sebuah pulpen, lalu berkata, “Tulislah Saudaraku, satu kalimat saja… Aku bersalah dan aku minta maaf…”

(Hal serupa pernah terjadi ketika Ustadz Sayyid Qutb dipenjara, lalu datanglah saudarinya Aminah Qutb sembari membawa pesan dari rejim thowaghit Mesir, meminta agar Sayyid Qutb sekedar mengajukan permohonan maaf secara tertulis kepada Presiden Jamal Abdul Naser, maka ia akan diampuni. Sayyid Qutb mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thowaghit…”. Pent)

Sayyid Qutb menatap perwira itu dengan matanya yang bening. Satu senyum tersungging di bibirnya. Lalu dengan sangat berwibawa Beliau berkata, “Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah bersedia menukar kehidupan dunia yang fana ini dengan Akhirat yang abadi”.

Perwira itu berkata, dengan nada suara bergetar karena rasa sedih yang mencekam, “Tetapi Sayyid, itu artinya kematian…”

Ustadz Sayyid Qutb berkata tenang, “Selamat datang kematian di Jalan Allah… Sungguh Allah Maha Besar!”

Aku menyaksikan seluruh episode ini, dan tidak mampu berkata apa-apa. Kami menyaksikan gunung menjulang yang kokoh berdiri mempertahankan iman dan keyakinan. Dialog itu tidak dilanjutkan, dan sang perwira memberi tanda eksekusi untuk dilanjutkan.

Segera, para eksekutor akan menekan tuas, dan tubuh Sayyid Qutb beserta kawan-kawannya akan menggantung. Lisan semua mereka yang akan menjalani eksekusi itu mengucapkan sesuatu yang tidak akan pernah kami lupakan untuk selama-lamanya… Mereka mengucapkan, “Laa ilaha illah Allah, Muhammad Rasulullah…”

Sejak hari itu, aku berjanji kepada diriku untuk bertobat, takut kepada Allah, dan berusaha menjadi hambaNya yang sholeh. Aku sentiasa berdoa kepada Allah agar Dia mengampuni dosa-dosaku, serta menjaga diriku di dalam iman hingga akhir hayatku.

Diambil dari kumpulan kisah: “Mereka yang kembali kepada Allah”
Oleh: Muhammad Abdul Aziz Al Musnad
Diterjemahkan oleh Dr. Muhammad Amin Taufiq.

Syubhat (Demokrasi)-Maslahat Dakwah

Para penganut dan pendukung demokrasi seringkali menjadikan maslahat dakwah sebagai alasan mereka terjun dan memperjuangkan Islam dengan sistem demokrasi. Sebenarnya apakah benar mereka menjadikan alasan maslahat dakwah untuk terjun ke dalam kubangan demokrasi ? Bagaimana menurut Al Qur’an dan As Sunnah?

Mereka mengatakan: Sesungguhnya masuk majelis-majelis itu mengandung banyak maslahat. Bahkan sebagian mereka mengklaim bahwa majelis itu pada dasarnya adalah mashlahat mursalah, dan mereka menyebutkan: Bisa dakwah kepada agama Allah, bisa menyampaikan yang hak, mereka juga menyebutkan: Merubah sebagian kemungkaran dan meringankan sebagian tekanan terhadap dakwah dan para du’aat.

Mereka juga menyebutkan: Untuk tidak membiarkan tempat-tempat dan majelis-majelis itu dipenuhi orang-orang nasrani, atau komunis atau yang lainnya…dan sebagian mereka lebih dasyat lagi dan mengatakan: Ini adalah untuk masalahat tahkiim syarii’at Allah (pemberlakuan hukum Islam) dan penegakkan dien-Nya (penegakkan ajaran-Nya) lewat MPR/DPR/Parlemen…….dan maslahat-maslahat yang mereka klaim, impiannya dan keinginanya………semua itu berkisar sekitar masalahat (dakwah).

Maka kami katakan dengan taufiq Allah subhaanahu wa ta’aala: Siapa yang berhak menentukan maslahat-maslahat dien-Nya dan hamba-hamba-Nya, serta mengetahuinya dengan sebenar-benarnya? Allah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui?? Atau kalian dengan anggapan-anggapan baik (istihsan) kalian dan maslahat-maslahat (ishtishlaah) yang kalian klaim??

Silahkan Baca Lanjutannya disini :)

Dialog Nabi Muhammad saw Dengan Iblis

Written by Abdullah

Al Quran telah berbicara menyampaikan kalam Illahi bahwa Rasulullah Muhammad saw adalah suri tauladan yang baik. Rasulullah Muhammad saw sebagai rahmatan lil ‘alamin, adalah utusan Allah swt yang bertugas untuk memperbaiki akhlak manusia. Tidak sekalipun pikiran beliau bekerja, melainkan untuk kebaikan umat. Tidak ada satupun perkataan yang keluar dari lisannya, melainkan untuk kemaslahatan umat. Tidak ada satupun perbuatan yang dilakukannya, melainkan untuk kemaslahatan umat. Segala kerja otak, lisan, dan perbuatan anggota tubuhnya adalah berdasarkan petunjuk Allah swt, sehingga bersih dari nafsu semata, dan kaya akan rahmat Allah swt.


“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzaab : 21)

Demikian Allah swt telah menegaskan bahwa Rasulullah saw adalah satu-satunya figur yang patut menjadi panutan. Beliaulah yang senantiasa memperjuangkan umat manusia dari cengkraman iblis laknatullah, yang merupakan musuh terbesar umat manusia.

"Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)." (QS. Al A’raf : 16-17)

Demikianlah pernyataan langsung iblis terlaknat kepada Allah swt setelah mereka menolak perintah Allah swt untuk bersujud kepada Adam dan akhirnya diusir oleh Allah swt dari surga. Mulai saat itulah, iblis telah menjadi musuh terbesar, musuh bebuyutan bagi seluruh keturunan Adam.

Satu ketika, iblis telah diperintahkan oleh Allah swt untuk menemui Muhammad saw dalam keadaan hina dina dan dengan bersahaja. Allah swt juga memerintahkan iblis untuk berkata dengan jujur mengenai segala bentuk tipu muslihatnya untuk menjerumuskan keturunan Adam dan berkata dengan jujur dalam menjawab segala pertanyaan yang dilontarkan oleh Muhammad saw. Allah swt telah memperingatkan iblis bahwa jika ia berdusta sekali saja, maka Allah swt akan mengazabnya menjadi debu dan memuaskan musuh-musuhnya atas musibah yang menimpanya tersebut.

Berikut adalah dialog yang terjadi antara nabi Muhammad saw dengan iblis laknatullah, sebagaimana tertuang dalam Kitab Sajaratul Kaun oleh Muhyiddin Ibnu Arabi / Darul ‘Ilmi al-Munawar asy-Syamsiyah, Madinah.

Diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal ra. dari Ibn Abbas ra., ia berkata : ”Kami bersama Rasululah saw berada di rumah seorang sahabat dari golongan Anshar dalam sebuah jamaah. Tiba-tiba, ada yang memanggil dari luar: “Wahai para penghuni rumah, apakah kalian mengizinkanku masuk, karena kalian membutuhkanku”.

Maka Nabi Muhammad saw bertanya kepada para sahabat :

”Apakah kalian tahu siapa yang menyeru itu?”

. Para sahabat menjawab ,

”Tentu Allah swt dan Rasul-Nya lebih mengetahui ”

. Nabi Muhammad saw berkata :

“ia adalah Iblis yang terkutuk – semoga Allah senantiasa melaknatnya”

. Umar bin Khattab ra. berkata :

”Ya, Rasulullah, apakah engkau mengijinkanku untuk membunuhnya?”

. Nabi Muhammad saw berkata pelan:

”Bersabarlah wahai Umar, apakah engkau tidak tahu bahwa dia termasuk mereka yang tertunda kematiannya sampai waktu yang ditentukan?. Sekarang silakan bukakan pintu untuknya, karena ia sedang diperintahkan Allah swt. Pahamilah apa yang dia ucapkan dan dengarkan apa yang akan dia sampaikan kepada kalian!

”.



Ibnu Abbas berkata :

“Maka dibukalah pintu, kemudian Iblis masuk ke tengah-tengah kami. Ternyata dia adalah seorang yang sudah tua bangka dan buta sebelah mata. Dagunya berjanggut sebanyak tujuh helai rambut yang panjangnya seperti rambut kuda, kedua kelopak matanya memanjang , kepalanya seperti kepala gajah yang sangat besar, gigi taringnya memanjang keluar seperti taring babi, kedua bibirnya seperti bibir macan/kerbau".

Dia  berkata,

“Assalamu‘alaika ya Muhammad, assalamu‘alaikum ya jamaa’atal-muslimin”

. Nabi SAW menjawab :

”Assamu lillah ya la’iin AKU telah mengetahui, engkau punya keperluan kepada kami. Apa keperluanmu wahai Iblis”

.



Iblis berkata :

”Wahai Muhammad, aku datang bukan karena keinginanku sendiri, tetapi aku datang karena terpaksa .”

Muhammad saw berkata :

”Apa yang membuatmu terpaksa harus datang kesini, wahai terlaknat?”

.



Iblis berkata,

”Aku didatangi oleh seorang malaikat utusan Tuhan Yang Maha Agung, ia berkata kepada-ku ‘Sesungguhnya Allah swt menyuruhmu untuk datang kepada Muhammad saw dalam keadaan hina dan bersahaja. Engkau harus memberitahu kepadanya bagaimana tipu muslihat, godaanmu dan rekayasamu terhadap Bani Adam, bagaimana engkau membujuk dan merayu mereka. Engkau harus menjawab dengan jujur apa saja yang ditanyakan kepa-damu’. Allah swt bersabda, ”Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, jika engkau berbohong sekali saja dan tidak berkata benar, niscaya Aku jadikan kamu debu yang dihempas oleh angin dan Aku puaskan musuhmu karena bencana yang menimpamu”. Wahai Muhammad, sekarang aku datang kepadamu sebagaimana aku diperintah. Tanyakanlah kepadaku apa yang kau inginkan. Jika aku tidak memuaskanmu tentang apa yang kamu tanyakan kepadaku, niscaya musuhku akan puas atas musibah yang terjadi padaku. Tiada beban yang lebih berat bagiku  daripada leganya musuh-musuhku yang menimpa diriku”

.


 


Nabi Muhammad saw kemudian mulai bertanya :

”Jika kamu jujur, beritahukanlah kepadaku, siapakah orang yang paling kamu benci?”


Iblis menjawab :

”Engkau, wahai Muhammad, engkau adalah makhluk Allah swt yang paling aku benci, dan kemudian orang-orang yang mengikuti agamamu”

.



Muhammad saw :

”Siapa lagi yang kamu benci?”

.


Iblis :

”Anak muda yang takwa, yang menyerahkan jiwanya kepada Allah swt”

.



Nabi Muhammad saw :

”Lalu siapa lagi?”

.


Iblis :

”Orang Alim dan Wara yang saya tahu, lagi penyabar”

.



Nabi Muhammad saw :

”Lalu, siapa lagi ?”

.


Iblis :

”Orang yang terus menerus menjaga diri dalam keadaan suci dari kotoran”

.



Nabi Muhammad saw :

”Lalu, siapa lagi?”

.


Iblis :

”Orang miskin yang sabar, yang tidak menceritakan kefakirannya kepada orang lain dan tidak mengadukan keluh-kesahnya “

.



Nabi Muhammad saw :

”Bagaimana kamu tahu bahwa ia itu penyabar?”

.


Iblis :

”Wahai Muhammad, jika ia mengadukan keluh kesahnya kepada makhluk sesamanya selama tiga hari, Tuhan tidak memasukkan dirinya ke dalam golongan orang-orang yang sabar “

.



Nabi Muhammad saw :

”Lalu, siapa lagi ?”

.


Iblis :

”Orang kaya yang bersyukur “

.



Nabi Muhammad saw bertanya :

”Bagaimana kamu tahu bahwa ia bersyukur?”

.


Iblis :

”Jika aku melihatnya mengambil dari dan meletakkannya pada tempat yang halal”

.



Nabi Muhammad saw :

”Bagaimana keadaanmu jika umatku mengerjakan shalat?”

.


Iblis :

”Aku merasa panas dan gemetar”

.



Nabi Muhammad saw :

”Kenapa, wahai terlaknat?”

.


Iblis :

”Sesungguhnya, jika seorang hamba bersujud kepada Allah sekali sujud saja, maka Allah mengangkat derajatnya satu tingkat”

.



Rassulullah :

”Jika mereka shaum (puasa)?”

.


Iblis :

”Saya terbelenggu sampai mereka berbuka puasa”

.



Nabi Muhammad saw :

”Jika mereka menunaikan haji?”

.


Iblis :

”Saya menjadi gila”

.



Nabi Muhammad saw :

”Jika mereka membaca Al Quran?"

.


Iblis :

“Aku meleleh seperti timah meleleh di atas api”

.



Nabi Muhammad saw :

”Jika mereka berzakat?”

.


Iblis :

”Seakan-akan orang yang berzakat itu mengambil gergaji/kapak dan memotongku menjadi dua”

.



Nabi Muhammad saw:

”Mengapa begitu, wahai Abu Murrah ?”

.


Iblis :

”Sesungguhnya ada empat manfaat dalam zakat itu. Pertama, Tuhan menurunkan berkah atas hartanya. Kedua, menjadikan orang yang berzakat disenangi makhluk-Nya yang lain. Ketiga, menjadikan zakatnya sebagai penghalang antara dirinya dengan api neraka. Keempat, dengan zakat, Tuhan mencegah bencana dan malapetaka agar tidak menimpanya”

.



Nabi Muhammad saw :

”Apa pendapatmu tentang Abu Bakar?”

.


Iblis :

”Wahai Muhammad, pada zaman jahiliyah, dia tidak taat kepadaku, bagaimana mungkin dia akan mentaatiku pada masa Islam”

.



Nabi Muhammad saw :

”Apa pendapatmu tentang Umar?”

.


Iblis :

”Demi Tuhan, tiada aku ketemu dengannya kecuali aku lari darinya”

.



Nabi Muhammad saw :

”Apa pendapatmu tentang Utsman?”

.


Iblis :

”Aku malu dengan orang yang para malaikat saja malu kepadanya”

.




Demikianlah Rasulullah saw telah mengorek keterangan dalam-dalam kepada iblis laknatullah. Semoga, dialog antara Rasulullah Muhammad saw dengan iblis yang banyak membongkar rahasia-rahasia iblis tersebut dapat menjadi ladang hikmah bagi kita semua. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dengan terus membentengi diri dari pengaruh-pengaruh iblis laknatullah, yaitu dengan terus ber-taqarrub kepada Allah swt. Amin.